Disrupsi Pendidikan. Ini Kata Ka Kwarcab Purbalingga, Kak Subeno

Dari tinjauan filsafat, Pendidikan menyangkut dua aspek utama yakni humaniora dan akademik. Humaniora lebih mengarah pada ketramipilan hidup, sedangkan akademik lebih mengarah pada kemampuan kognitif.

M.J Langeveld menggambarkan Pendidikan sebagai upaya pendewasaan individu dengan tujuan untuk menjadikan individu yang mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan Skinner, Gagne dan Piaget lebih focus pada Pendidikan sebagai wahana membangun kecerdasan kognitif.

Pada abad ke-21 perkembangan teknologi telah masuk era disrupsi industry 4.0. Pemanfaatan computer-komputer canggih dan internet yang menghasilkan berbagai aplikasi sehingga telah membawa kita kedalam kehidupan layaknya lampu Aladin.

Ketika kita berada di satu tempat, dengan berbekal android dan dibantu internet of things, kita bisa berkeliling dunia, bekerja, belanja, berdagang, dan berbagai aktivitas lainnya. Itu semua dapat kita lakukan  tanpa kita bergeser tempat. Hal semacam ini diwaktu yang lampau, tidak pernah terbayangkan.

Disrupsi secara lughoti diartikan  “sesuatu yang tercabut dari akarnya”. Dalam arti istilah, disrupsi adalah perubahan yang sangat fundamental, sangat mendasar. Selain di dunia teknologi, ternyata disrupsi juga terjadi di dunia Pendidikan.

Bukan semata akibat era industry 4.0, namun juga terjadi akibat pandemic Covid-19. Perubahan pola belajar luring menjadi daring, seakan mengubah hampir semua nadi Pendidikan. Dan itu terjadi disaat kita belum sepenuhnya siap, alias lahir premature.

Menghadapi dunia yang berubah sangat cepat, maka tugas berat yang harus kita lakukan adalah menyiapkan generasi kita agar tidak tertinggal dari bangsa lain. Bukan sekedar ketrampilan kognitif, affektif dan psikomotorik, namun harus dengan ketrampilan essential agile, yakni kemampuan untuk bergerak sangat cepat dalam menyelesaikan masalah dengan tetap bisa menjaga keseimbangan dan bisa mencapai tujuan dengan hasil maksimal.

Ini menjadi PR kita bersama, semua orang dan semua pihak yang bergerak didunia Pendidikan. Pramuka sebagai salah satu jalur Pendidikan (non formal), mempunyai tugas besar untuk ikut membangun karakter bangsa.

Kurikulum pramuka secara substantif telah mengandung materi yang cukup lengkap untuk mendidik generasi baru kita dengan ketrampilan essential agile. Untuk itu, mari kita siapkan bersama generasi muda kita dengan terlebih dahulu menyiapkan diri kita sebagai agen perubahan.

Insya Alloh tugas itu terwujud.

Semoga. Salam Pramuka… !!

Kak Mufti Hanifatur Rahmah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kwarran Kejobong Masuk Nominasi Lomba Pengelolaan Website Anugerah Kehumasan Pandu Citraloka Kwarda Jawa Tengah

Sab Jul 10 , 2021
Kejobong – Kwarran Kejobong berhasil menempati posisi 3 besar pada lomba Pengelolaan website Final Anugerah Kehumasan Pandu Citraloka yang di […]

Mungkin Kakak Suka Artikel Ini